KULTUR SEKOLAH

KULTUR SEKOLAH

By : Beri Prima


    Sebelum kita membahas tentang kultur sekolah, penulis ingin bertanya kepada para pembaca pernahkah kalian melihat sekolah ? Pastinya pernah kan. Ketika kalian melihat suatu sekolah untuk pertama kali apakah yang kalian perhatikan ? Kebersihannya ? Kedisiplinan Siswanya atau keunikan sekolah tesebut. Jika iya maka yang kalian perhatikan tersebut ialah salah satu bagian dari kultur sekolah. Lantas apa itu kultur sekolah ? Kultur sekolah terdiri dari dua kata, Kultur dan juga Sekolah. Kultur dapat diartikan sebagai kebudayaan atau budaya maupun kebiasaan dan sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan. 

      Maka disini dapat dipahami bahwa kultur sekolah merupakan kebudayaan yang ada disuatu lembaga pendidikan atau sekolah. Yang namanya kebudayaan pasti memiliki ciri khas. Seperti misal suku jawa dengan budaya seni wayang kulitnya atau masyarakat melayu kalimantan barat dengan tradisi saprahannya yang mana mungkin tidak dimiliki oleh daerah-daerah yang lain. Sama hal nya dengan sekolah, pasti di suatu lembaga sekolah tentu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya. Lantas siapa yang bertangggungjawab membangun kultur sekolah? Jawabannya adalah Semua lapisan yang ada disekolah memiliki kontribusi dalam mambangun kultur sekolah, namun kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi dalam lembaga sekolah yang memiliki kewenangan dan kekuasaannya yang lebih, memikul tanggungjawab terbesar dalam mendorong terbentuknya kultur sekolah yang positif. Mengapa kultur sekolah harus di dorong menjadi kultur yang positif ? Sebab kultur sekolah menentukan baik atau buruknya pandangan seseorang terhadap sekolah tersebut. Ketika masyarakat menyebut Sekolah A, maka sudah terbayang gambaran isi positif dari sekolah A tersebut. Sebaliknya, sekolah yang kulturnya buruk, maka wajah buruk lah yang terbayang di benak masyarakat. Maka disini dapat kita pahami bahwasannya kultur sekolah ini memang penting untuk diperhatikan diatur sedemikian rupa agar menghasilkan kultur sekolah yang baik dan diinginkan.

    Timbul pertanyaan disini apa saja manfaat dari kultur sekolah ini ? Secara umum atau secara garis besar kultur sekolah ini memiliki 2 manfaat yaitu manfaat internal (didalam sekolah) dan juga eksternal (diluar sekolah) yang pertama berbicara tentang internal atau berkaitan dengan hal-hal dalam sekolah, kultur sekolah ini memiliki hubungan dengan prestasi dan juga motivasi para peserta didik dalam suatu pembelajaran misalnya lingkungan kedisiplinan disekolah membuat para siswa ini menjadi disiplin hal ini menjadikan kultur sekolah sebagai jembatan terciptanya visi dan juga misi serta tujuan dari sekolah tersebut. Dengan kultur sekolah yang baik maka memudahkan visi dan misi sekolah cepat tercapai sebaliknya apabila kultur sekolah buruk maka untuk mencapai visi dan misi sekolah juga sukar untuk dilakukan. Kemudian berkiatan dengan manfaat eksternal sudah saya jelaskan juga diatas akan membuat citra sekolah menjadi baik dan meningkatkan minat masyarakat terhadap sekolah tersebut.

    Seperti yang saya katakan diatas bahwa Kultur sekolah ada yang bersifat postitif dan juga negatif Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang mendukung peningkatan mutu pendidikan dalam mencapai prestasi akademik dan non akademik, adanya subsidi silang antar sekolah, memberi penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen dalam belajar, saling percaya antar warga sekolah, dan se bagainya. Kultur yang bersifat negatif adalah kultur yang menghambat peningkatan mutu pendidikan, seperti banyak jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya/mengemukakan pendapat, kompetisi yang tidak sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah dan sebagainya. 

    

Contoh Kultur Positif di sekolah:

1. Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi tinggi hal tersebut karena telah ditanamkan dalam kultur sekolah keyakinan bahwa yang berkerja keras dan bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang maksimal sesuai apa yang telah ia lakukan.


2. Memegang teguh bahwa prestasi dan proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan


3. Menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral


4. Membangun jembatan antara visi, misi, dan aksi Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga  Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah


5. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team work yang tinggi


6. Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)


7. Menghargai prestasi siswa


8. Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi


9. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, sejuk, dan aman


Contoh Kultur Negatif di sekolah:


1. Siswa memiliki keyakinan belajar asal-asalan apa adanya pasti naik kelas dan lulus.


2. Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).


3. Siswa tidak antusias menerima tugas karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.


4. Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.


5. Siswa malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik, tidak antusias dalam mengajar, dan tidak menguasai materi.


6. Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinnya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.


7.  Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannyasiswa tidak menghargai guru.


8. Sekolah tidak disiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan menyalahkan siswa atas prestasinya.


9. Kebijakan kepala sekolah bersifat pilih kasih.

Menghindari kolaborasi dan selalu ada pertentangan.


10. Mereka yang innovatif malah di kritik dan tidak disenangi.


11. Diantara warga sekolah tidak ada saling percaya dan selalu mencari kesalahan orang lain.

Banyak siswa dan guru yang terlambat datang ke sekolah serta lingkungan sekolah yang kotor, membuang sampah tidak pada tempatnya.


     Pengembangan kultur sekolah harus menjadi prioritas penting. Semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Sekolah yang berhasil membangun dan memberikan kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi baik akademik maunpun non akademik. Artinya, dalam memperbaiki mutu sekolah tanpa adanya kultur sekolah yang positif maka perbaikan itu tidak akan tercapai, sehingga kultur sekolah harus menjadi komitmen luas bagi warga dan menjadi kepribadian sekolah, serta didukung oleh stakeholder sekolah. Dengan kultur sekolah yang positif dan mewaspadai adanya kultur negatif, maka suasana kebersamaan, kolaborasi, semangat untuk maju dan berkembang, dorongan bekerja keras dan kultur belajar mengajar yang bermutu akan dapat diciptakan.



SUMBER :


http://arifin.gurusiana.id/article/2017/3/kultur-sekolah-375882?ba_status=not-logged&bima_access_status=not-logged


http://20231076.siap-sekolah.com/2013/12/04/kultur-sekolah/#.Ykv8fRiySDY

 http://smam4la.sch.id/pentingnya-membangun-kultur-sekolah-dalam-upaya-meningkatkan-mutu-pendidikan/#:~:text=Contoh%20Kultur%20Positif%20di%20sekolah%3A&text=Menjunjung%20tinggi%20nilai%2Dnilai%20religius,tugas%20dan%20fungsinya%20di%20sekolah